Konvergensi Teknologi Informasi dan Teknologi Telekomunikasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Konvergensi adalah keadaan menuju satu titik pertemuan; memusat. Konvergensi antara teknologi informasi yang dipadukan dengan teknologi telekomunikasi yang membawa kemudahan dalam komunikasi dan networking melahirkan suatu kolaborasi menarik yang diminati masyarakat dan dapat bermanfaat besar bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat dapat dengan mudahnya saling bertukar voice, data, hingga video.
Contoh dari konvergensi itu adalah perkembangan handphone (berawal dari voice lalu bertambah keperluan sms dan bertambah lagi menjadi kebutuhan tukar menukar data hingga akhirnya lahir 3G, kemudian 3,5G dan akan berkembang lagi WIMAX dan 4G) , koneksi internet (dengan menggunakan dial up connection, ADSL ataupun internet mobile). Dari kekonvergenan itu, yang paling menunjang pendidikan adalah internet beserta perangkatnya.
Pengaruh Konvergensi Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi Pendidikan
“ Untuk bahan kuliah nya nanti bisa di ambil dari ftp saya yang seperti biasanya. Dan untuk pengumuman jadwal dan ruang UAS bisa di liat papan pengumuman yang biasa, tapi sudah di upload juga di milis atau kalian dapat lihat di sistem informasi akademik.”
Sepenggalan kalimat itu biasa saya dengar di akhir jam kuliah. Hal ini memberikan sedikit gambaran bagaimana perkembangan teknologi telekomunikasi khususnya internet dan handphone berkolaborasi dengan perkembangan teknologi informasi yang memberikan dampak besar pada dunia pendidikan.
Pada awalnya pendidikan di indonesia berasal dari kegiatan pendidikan agama yang biasanya dilakukan disurau atau mesjid. Seiring berjalannya waktu, mulai berkembang model pengajaran klasik yang kita kenal sekarang. Seorang guru mengajar didepan kelas, menulis di papan tulis dengan menggunakan kapur dan murid dituntut untuk mendengar dan mencatat. Kemudin metode pengajaran terus berubah, mulai dari berubahnya kapur menjadi spidol, lalu penggunaan OHP (over head projector), lalu berubah lagi menggunakan perangkat yang lebih canggih yaitu dengan membuka slide power point ataupun word di laptop lalu dengan menggunakan infocus di pancarkan ke layar. Hal ini dapat membantu pengajar dalam hal menyiapkan bahan ajar sehingga tidak usah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menyalin semuanya lagi di papan tulis. Terlihat sekali pekembangan teknologi baik hardware maupun software meningkatkan kualitas dalam pendidikan.
Selain dalam metode pengajaran, perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi dapat dilihat dalam berbagai hal lain. Di semua daerah dan tempat yang sudah terkena dampak teknologi, timbul gaya hidup baru dalam proses pendidikan. Buku cetak tidak lagi menempati posisi utama sebagai bahan pegangan peserta didik. Mulai dari guru SD hingga dosen, kini dapat membuat sendiri bahan ajarnya sehingga sesuai dengan kebutuhan para murid dan mahasiswa. Mereka masih berpedoman pada buku cetak namun mereka merangkum dan meramu sendiri bahan ajar dengan bahan-bahan dari sumber lain yang kemudian di kemas dalam bentuk slide transparansi OHP, power point maupun catatan yang dibuat menggunakan microsoft word. Setelah mereka menerangkan dikelas, untuk mempermudah dalam penyebaran bahan ajar, bahan tersebut dapat di fotocopy oleh setiap peserta didik ataupun di upload di suatu media sehingga peserta dapat mendapatkannya dengan mudah.
Saat ini banyak sekali contoh kegiatan dalam pendidikan yang membutuhkan akses internet, contohnya mengupload dan mendownload bahan kuliah dari/ke suatu server ftp (FTP adalah sebuah protokol internet pada layer aplikasi yang digunakan untuk transfer file antar klien FTP dan server FTP.), berbagi informasi kuliah melalui milist (mailing list), mencari bahan kuliah dengan menggunakan search engine, membaca e-book, melihat pengumuman jadwal kuliah yang ada di wall Facebook dosen, mengerjakan tugas dan dikumpulkan dengan cara di upload ke suatu web, suatu server ftp, ataupun blog, belajar bersama dengan memanfaatkan conference chatting, saling kirim keperluan kuliah melalui milist ataupun email dan masih banyak lagi contoh lain. Bahkan di tempat saya berkuliah juga sudah ada sistem e-learning yang sedang dikembangkan, sehingga dosen menggunakan media itu untuk meletakkan bahan kuliah, memberitahukan info, memberikan soal dan jawaban pr, serta forum diskusi. Sistem e learning ini disebut blended learning. Blended learning telah dikembangkan di berbagai negara maju. Sistem ini mencampur e-learning (electronic) dengan m-learning (mobile) dengan sumber pendidikan lain yang sering disebut juga sebagai hybrid courses. Selain itu ia juga terdiri dari e-mentoring atau e-tutoring.
Awalnya saya pikir hanya dunia perkuliahan yang telah memanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi sebagai penunjang kegiatan pendidikan, Namun ternyata di kota besar, SMA, SMP bahkan SD pun telah memanfaatkan media internet sebagai sarana penunjang pedidikan. Bahkan salah satu SDN Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Jakarta Timur, guru memberikan tugas melalui wall di facebooknya. Selain itu, siswa di SDN ini juga sering diberikan tugas kliping dari internet sebagai media belajar. Hal ini menyebabkan para murid semakin akrab dengan yang namanya internet khususnya email, dan situs seperti google, facebook, dan lain-lain.
Pemerintah pun mulai menumbuhkan kebiasaan baik menggunakan internet untuk hal positif yang penunjang pendidikan, yaitu dengan dimasukkannya pelajaran komputer di kurikulum sekolah mulai dari tingkat dasar. Selain itu pemerintah juga mulai menerbitkan Buku Sekolah Elektronik (BSE atau e-book). Berdasarkan data dari Depdiknas, jumlah BSE yang telah ada adalah 407 judul buku dan akan bertambah setiap tahunnya. Dengan adanya BSE ini, buku dapat didownload langsung ataupun dicetak sendiri atau difotocopy sehingga siswa mendapatkan buku dengan harga yang lebih murah. Jika ada e-book, maka sumberdaya alam dapat dihemat yaitu pohon. Pohon yang biasanya digunakan dalam pembuatan kertas adalah pohon pinus. Biasanya pohon pinus dewasa mempunyai diameter 0.3 meter dan tingginya sekitar 18,3 meter. Dari pohon dengan ukuran tersebut, biasanya dapat dihasilkan 365 kilogram kayu yang dapat diolah menjadi kertas. Satu rim kertas beratnya biasanya sekitar 2,27 kilogram dan terdiri dari 500 lembar. Maka dari satu pohon akan didapat 80.500 lembar kertas. Jika sebuah buku cetak dianggap memiliki 200 halaman, maka dari satu pohon daat dihasilkan 805 buah buku. Anggap saja setiap peserta didik memiliki 10 buah buku cetak, maka satu buah pohon hanya mampu mencukupi kebutuhan buku cetak dari 80 peserta didik. Itupun sudah menerapkan sistem fotocopy bolak-balik. Dengan adanya e-book, maka akan mengurangi jumlah pohon yang ditebang untuk membuat buku cetak. Misal ada 4 juta peserta didik yang telah beralih menggunakan e-book, maka akan ada 50 ribu pohon yang terselamatkan setiap semesternya. Karena buku cetak biasanya akan berganti setiap semester. Dengan penghematan itu, lingkungan pun akan dapat dijaga. Namun akan timbul masalah baru yaitu sampah elektronik dan kebutuhan energi untuk alat elektronik yang digunakan. Hal itu dapat dikurangi dampaknya jika setiap pengguna alat elektronik menggunakan alatnya secara bijak dan hemat. Janganlah menyalakan alat elektronik tersebut disaat tidak dipakai serta jangan melakukan kecurangan-kecurangan untuk menekan biaya pembayaran yang dapat membahayakan alat itu sendiri.
Tidak hanya BSE, pemerintah juga mengembangkan Jardiknas untuk memperbaiki kualitas pendidikan melalaui telnologi informasi dan telekomunikasi. Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional) adalah program pembangunan infrastruktur jaringan online skala nasional (National Wide Area Network) yang dibangun Departemen Pendidikan Nasional RI pada tahun 2006. Jardiknas menghubungkan antar institusi dan komunitas pendidikan di seluruh Indonesia. Sehingga diharapkan, proses pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dapat di percepat untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Pada akahirnya diharapkan dapat terciptanya masyarakat yang berbasis pengetahuan. Selain Jardiknas, pemerintah yakni Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti Depdiknas) juga mengembangkan infrastruktur berskala nasional untuk perguruan tinggi yang diberi nama INHERENT (Indonesia Higher Education Network). Ada 32 perguruan tinggi negri yang menjadi simpul lokal INHERENT yang berfungsi untuk mendsitribusikan koneksi ke perguruan lain yang berada satu wilayah dengannya.
Selain untuk kegiatan belajar mengajar, perkembangan software dan hardware dalam teknologi informasi dan telekomunikasi (khususnya internet) digunakan juga dalam sistem administrasi dan informasi akademik. Sistem ini mengurusi pendaftaran online, nilai, jadwal dan ruang kuliah, serta informasi lainnya. Pada tingkatan perguruan tinggi, sistem ini sudah mulai diintegrasikan sehingga mulai dari pendaftaran, nilai hingga info lainnya sudah diarahkan ke sistem online. Namun pada tingkatan SMA, SMP dan SD masih sistem pendaftaran dan penerimaan siswa baru saja yang online. Dengan adanya sistem pendaftaran online ini, orang tua siswa tidak harus bolak-balik ke sekolah yang dituju untuk mengecek apakah nilai anaknya masih berada dalam batas aman untuk diterima di sekolah tersebut atau tidak. Sehingga ketidakteraturan dan kecurangan dalam proses pendaftaran siswa baru dapat dihindari.
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan yang secara “tidak sengaja” membuat peserta didik menjadi terbiasa dengan teknologi khususnya internet, maka kebutuhan koneksi internet pun meningkat. Berdasarkan pengalaman saya saat ini sebagai mahasiswi yang tinggal di kos, internet merupakan sesuatu yang amat dibutuhkan. Kampus memang memfasilitasi mahasiswa dengan jaringan internet gratis yang berkecepatan tinggi namun jumlah komputer yang disediakan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa, sehingga mahasiswa harus membawa laptop sendiri jika ingin menggunakan akses internet secara leluasa dan nyaman di kampus. Akses internet berkecepatan tinggi tersebut adalah kerjasama dengan Jepang yaitu penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3) yang dimulai pada awal tahun 1996. Dengan adanya kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan akan internet itu di kampus dan kosan, membuat internet sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Untuk para siswa sekolah pun internet kemudian menjadi kebutuhan untuk pendidikan dan ditambah lagi untuk social networking. Hal ini menyebabkan pengguna internet terus bertambah.
Kondisi Pengguna Internet di Indonesia saat ini.
Akibat berkembangnya pendidikan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi, maka pengguna internet pun semakin meningkat. Jumlah pengguna internet di Indonesia sudah cukup banyak namun persentase nya masih kecil dibandingkan dengan negara lain. Hal ini disebabkan penduduk Indonesia yang cukup besar. Menurut data BMI, jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2006 adalah 10,576 Juta pengguna lalu bertambah pada tahun 2007 menjadi 13 Juta pengguna, pada tahun 2008 25 Juta pengguna dan pada tahun 2009 (final) menjadi 45 Juta pengguna. Jika dibanding dengan jumla penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 Juta penduduk, maka persentase pemakai internet masihlah sedikit yaitu hanya sekitar 10% dari jumlah penduduk.
Dalam penggunaan internet saat ini, ada beberapa teknologi yang biasa digunakan yaitu dial up connection, ADSL, dan mobile internet yang biasa dipakai di handphone. Jika menggunakan dial up connection yang memanfaatkan saluran telepon dengan modem analog, bitrate yang diperoleh pengguna tidak terlalu tinggi dan saluran telepon tidak dapat dipakai untuk keperluan telepon saat saluran transmisinya sedang digunakan untuk internet. Berbeda dengan dial up connection, ADSL atau yang lebih dikenal dengan Asymmetric Digital Subscriber Line adalah teknologi komunikasi data yang memungkinkan transmisi data melalui saluran telepon (kabel tembaga) yang lebih cepat dibanding dengan yang disediakan oleh voiceband modem biasanya. Hal ini dapat terjadi dengan memanfaatkan frekuensi yang sedang tidak digunakan untuk panggilan telepon. Pada ADSL terdapat Splitter yang memungkinkan koneksi telepon tunggal dapat digunakan untuk ADSL dan panggilan telepon pada saat yang bersamaan. Dengan teknologi ADSL, provider telekomunikasi dapat menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi yang memungkinkan terjadinya layanan komunikasi voice, data dan video secara bersamaan. Karena penggunaannya dapat dilakukan secara berbarengan, maka pemakaian saluran transmisi dapat di share dengan pengguna lain. Setiap pengguna telepon tetap dapat menambahkan layanan ADSL dengan menambahkan perangkat tambahan.
Selain dengan menggunakan teknologi ADSL, banyak pengguna internet yang menggunakan handphone untuk mengakses internet. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan jumlah pemakai handphone 3G yang sangat pesat. Menurut data BMI, pada tahun 2006, pengguna handphone 3G di Indonesia adalah 1,010 Juta, pada tahun 2007 meningkat menjadi 3,7 Juta pengguna, lalu pada tahun 2008 meningkat menjadi 6,734 Juta pengguna dan pada tahun 2009 (final) meningkat lagi menjadi 9,386 Juta pengguna. Jika dibandingkan dengan pengguna mobile phone yang berjumlah 210,738 Juta pelanggan pada tahun 2009 (final year menurut BMI), maka tidak tertutup kemungkinan bahwa penggunaan handphone 3G akan meningkat lebih banyak lagi. Ditambah lagi dengan adanya teknologi push email, membuat masyarakat menjadi semakin memiliki kecenderungan ketergantungan pada internet. Hal ini membuka peluang bisnis bagi pelaku usaha telekomunikasi. Selain bertambahnya keuntungan bisnis, semakin berkembangnya bidang ini, secara tidak langsung juga akan memajukan sistem pendidikan di Indonesia.
Pengaruh Peningkatan Pengguna Handphone 3G Terhadap Dunia Pendidikan
Dengan bertambahnya pengguna handphone 3G , maka semakin banyak pula orang yang dapat mengakses internet dimanapun ia berada. Tentunya didalam pengguna handphone 3G terdapat peserta didik. Sehingga kenaikan jumlah pengguna handphone 3G dapat diasumsikan dengan bertambahnya jumlah peserta didik yang menggunakan handphone berteknologi 3G. Oleh karena itu, dengan spesifikasi tinggi yang dimiliki handphone 3G, maka peserta didik dapat mengakses internet untuk kebutuhan pendidikan dengan mudah dan membukanya di handphone nya dengan mudah pula. Setiap bahan kuliah yang didownload dapat dibaca langsung di handphone, baik itu data berekstensi jpg, txt, ppt, doc, docx, xls, xlsx dan sebagainya.
Selain kemudahan dalam membuka bahan ajar dimana saja dengan menggunakan handphone, peserta didik juga dipermudah dalam mengerjakan tugasnya dengan menggunakan handphone yang sudah memiliki kamera yang beresolusi tinggi. Dengan bantuan kamera, peserta didik tidak harus lagi menggambar hasil yang didapat dari praktikum secara manual yang menghabiskan banyak waktu. Pada saat praktikum mereka dapat mengambil gambar hasil praktikum dengan menggunakan kamera handphone lalu memasukkannya kedalam laporan mereka. Bahkan jika handphonenya mendukung, mereka dapat langsung mengerjakan laporannya dengan menggunakan handphone.
Gambaran Perkembangan Pendidikan
Saat ini persentase sistem pendidikan di Indonesia yang telah berbasis teknologi informasi dan komunikasi masih sangat kecil, hal ini dikarenakan masih banyak di pelosok daerah yang tidak tersentuh oleh teknologi. Jika terus dikembangkan, maka kolaborasi antara perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan pendidikan akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Tentunya semua teknologi akan berdampak positif jika digunakan dalam jalur yang positif serta untuk tujuan kebaikan bersama.
Selain itu, pendidikan gratis di Indonesia akhirnya dapat terwujud. Saat ini masyarakat sebenarnya sudah dapat menikmati pendidikan gratis untuk wajib belajar 9 tahun dengan adanya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun masih banyak anak-anak yang putus sekolah dengan alasan tidak memiliki biaya untuk membeli buku. Jika disetiap sekolah disediakan sarana pendidikan yang memadukan teknologi informasi dan komunikasi, maka peserta didik tidak usah lagi memikirkan biaya buku. Mereka dapat belajar melalui e-book yang dapat diakses dari lab komputer sekolah (karena pelajaran komputer dimasukkan kedalam kurikulum), ataupun memfotocopy bahan ajar dari guru yang tentunya akan lebih singkat isinya jika dibanding dengan buku cetak.
Jadi secara garis besar menurut saya kedepannya jika seluruh sistem pendidikan di Indonesia telah memanfaatkan kekonvergenan teknologi informasi dan komunikasi, maka manfaat yang dapat terasa dari kolaborasi ini antara lain, kemudahan akses informasi yang dibutuhkan peserta didik, pemerataan kualitas pendidikan (Jika seluruh daerah telah terjangkau oleh teknologi ini), penghematan sumber daya alam serta pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud.
Zikra Shilviana
13207079
Teknik Telekomunikasi ITB
Angkatan 2007